Hari / Tanggal :

Lelaki Yang Gagal Orgasme

|
Pria-pria yang Kerap Gagal Mencapai OrgasmeGanguan orgasme lebih sering dialami wanita, namun bisa juga terjadi pada pria meski jumlahnya sedikit. Pria bisa saja gagal mencapai orgasme dan harus rela mengakhiri hubungan seks tanpa getaran hebat yang menandai puncak kenikmatan meskipun di awalnya semangat.

Menurut Dr Andri Wanananda MS seperti dikutip dari tulisannya, Selasa (26/4/2011), pria dengan gangguan orgasme umumnya tetap bisa mengalami ereksi dan tetap memiliki gairah atau ketertarikan untuk bersetubuh. Bahkan ejakulasi atau keluarnya air mani masih bisa terjadi, hanya saja sensasinya tak sehebat orgasme yang normal.

Bagi pria, kondisi ini mengurangi kenikmatan dan membuat aktivitas bercinta terasa lebih melelahkan karena tidak terpuaskan secara maksimal. Tak jarang pria dengan gangguan orgasme menjadi rendah diri dan frustrasi karena terbebani perasaan bersalah.

Pakar seksologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta itu mengatakan gangguan orgasme pada pria bisa dipicu oleh beberapa hal:
  1. Faktor fisik pria, misalnya multiple schlerosis atau penyakit pada susunan saraf pusat.
  2. Penggunaan jenis obat tertentu juga bisa memicu gangguan orgasme. Misalnya saat menggunakan obat antidepresan golongan trisiklik atau monoamine oxidase inhibitors yang bekerja dengan mempengaruhi susunan saraf pusat di otak.
  3. Pria dengan masalah psikologis, misalnya takut menghamili pasangan atau merasa bosan dengan pasangannya. Akibatnya pria hanya bisa menikmati fase rangsangan atau excitement phase, namun tidak bisa mempertahankan gairahnya hingga orgasme.
Dr Andri menambahkan, langkah pertama untuk mengatasi gangguan orgasme pada pria adalah mengatasi penyebabnya. Jika dipicu oleh penyakit, maka penyakitnya harus disembuhkan dulu sedangkan jika dipicu oleh obat-obatan maka obatnya harus dihentikan.

Solusinya menjadi agak rumit jika penyebabnya adalah faktor psikologis, karena harus diatasi dengan behavioral therapy atau terapi perilaku. Dalam terapi ini, dokter atau psikolog harus menggali pikiran si pasien lalu bersama-sama mencarikan cara untuk berdamai dengan pikirannya.