Hari / Tanggal :

Kisah wanita pemijat Plus Plus


Siapa pun perempuan tak ingin terjun ke dunia prostitusi, meski hal itu dilakukan terselubung. Namun lantaran terdesak ekonomi, mereka akhirnya nekat menjual tubuhnya demi lembaran rupiahpria hidung belang yang datang kian banyak. Ini juga yang terjadi di panti pijat maupun spa di Surabaya yang menyediakan layanan plus plus.

Gisel (24), sebut saja namanya begitu. Wanita asal Sidoarjo ini sudah setahun ini menjadi cewek pemijat (therapist) plus plus pada sebuah tempat spa di Surabaya Barat. Wajahnya cantik dengan rambut panjang sebahu. Tubuhnya juga montok dan kulitnya putih bersih. Sayang, perutnya agak gendut. Terlihat wanita beranak satu ini kurang olah raga dan perawatan.

"Biar aja wis, sing penting payu (Biar saja yang penting laku)," cetus wanita ini dalam satu kesempatan kepada Surabaya Pagi saat ditemui di kos-kosannya di kawasan Dukuh Kupang.

Awalnya ia tak menceritakan kenapa harus menjadi pemijat plus plus. Namun, setelah dipancing-pancing akhirnya sedikit demi sedikit berkeluh kesah alias curhat. "Saya ini dulu banyak uang dan punya mobil," ujarnya sambil mengisap rokok Marlboro mentolnya.

Kehidupannya berubah drastis ketika suaminya tiba-tiba menceraikannya, tanpa alasan yang jelas. Sejak itu, dirinya stres. Sebab, pernikahan dirinya dengan pemuda asal Kalimantan bernama Rio itu sebenarnya tak direstui oleh keluarga besarnya. Termasuk orang tua kandungnya.
"Bayangkan mas, saya sudah bela-belain nggak diakui keluarga tidak apa, asal dia juga ngertiin aku. Tapi kalau seperti itu, siapa yang nggak stres," aku Gisel dengan mimik serius. "Keluargaku nggak setuju karena saya dijadikan istri kedua," tukas Gisel menjelaskan.

Saat cerai, rekening banknya masih ada simpanan sekitar Rp 100 juta. Dia juga masih ditinggali sebuah mobil sedan. Tapi semuanya ludes. Uang yang di bank habis untuk dugem yang dilakukan hampir setiap malam. "Hampir tiap malam koplrer (mabuk berat). Ngineks, minum-minum wis mbuh gak karuan pokoke," ungkapnya.

Di saat uang di bank habis, mobil satu-satunya juga dijual untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dengan anaknya. Bahkan, dia akhirnya ngekos. Selama dengan suaminya dulu belum sempat beli rumah, tapi hanya kontrak. Di saat yang sama, wanita ini harus membayar cicilan tagihan bank sebesar Rp 10 juta per bulan. Tagihan bank itu karena dirinya pernah mengajukan kredit untuk membeli sebuah ruko di kawasan Surabaya Barat.


"Saya sudah tidak punya siapa-siapa. Tak dianggap oleh keluarga, uang juga tak punya. Terus saya ini minta tolong siapa? Sementara argo jalan terus," tutur Gisel, yang kembali menyulut rokoknya lagi. Karena itulah, dia akhirnya nekat kerja di spa. Kebetulan seorang temannya juga bekerja di sana. "Awalnya teman saya tidak mau. Karena kerja di spa menjijikkan. Harus melayani kemauan tamu," ceritanya. Namun, dia tetap mendesak dan akhirnya diterima di spa tersebut.

"Saya pernah dimaki-maki teman saya itu. Dikatakan binatang lah. Itu karena saya ngaku habis layani om-om. Tapi mau gimana lagi, semua terpaksa," tandasnya